Tuesday, November 17, 2009

sedih

Habis baca diskusi di salah satu club di Fesbuk, dan kemudian merasa sedih... Sedih melihat kondisi negara, sedih melihat pemikiran masyarakat, sedih memikirkan bahwa... "Kok sepertinya pada lupa ya untuk 'menjaga hati'...?"
Berpikir untuk mundur teratur dari fesbuk....
But I know I will really missed it... :(

Tuesday, February 10, 2009

Jakarta, Januari 2009

Sejak bulan Desember papa dapat tugas pelatihan manajemen di Jakarta, dan rencananya bulan Januari ini kami mau ikutan. Biar bisa sekalian jalan-jalan gitu… Hehehe… Rencana awal adalah, papa berangkat ke Jakarta tanggal 5 Januari, kemudian aku, ghazi dan isan menyusul tanggal 21 dan akan kembali ke Makassar sama-sama tanggal 31.

Waktu cari-cari tiket di airasia.com ternyata dapat tiket yang lumayan murah, setelah ngobrol sama si papa akhirnya diputuskan untuk sekalian ngajak nenek dan ato (panggilan ghazi&isan untuk ibu&bapakku), sudah lama juga beliau ga jalan-jalan…

Setelah papa berangkat ke Jakarta tanggal 5 ternyata kk Ghazi diajak sama ato’ dan nenek ke Bone tanggal 6-nya.. Langsung berasa sepi…. Maklum, selama ini tidur selalu sama-sama Ghazi, begitu ditinggal rasanya sedih aja…. Baru semalam udah berasa kangen banget, akhirnya besok harinya langsung aja beli tiket untuk ke Jakarta tanggal 9 berdua sama Isan. Habis daripada bersedih-sedih dirumah gara-gara mikirin Ghazi yang notabene bersenang-senang di Bone, mending ke Jakarta aja deh… Jadi rencananya aku berangkat tanggal 9 dan kembali ke Makassar tanggal 16, baru kemudian tanggal 21 sama-sama Ghazi, ato’&nenek ke Jakarta lagi.

Jadilah tanggal 9 sore berdua sama Isan berangkat naik taksi ke bandara, kemudian dengan Lion Air menuju Jakarta. Ceritanya karena ga mau repot Isan aku pakein diapers aja, tapi selama di pesawat dia malah sukanya bolak balik ke toilet. Kalo lagi di kursi sukanya nyanyi2 dan buka tutup meja depan tempat duduknya. Sempat khawatir juga kalo penumpang yang lain terganggu, tapi alhamdulillah mereka malah enjoy aja sama tingkah polah Isan. Malah pada ngajakin kenalan, salaman, diajak ngobrol, dan dibeliin coklat. Begitu juga waktu lagi nunggu bagasi… Hihihi… Jadi serasa nemenin artis… :P Setelah ambil bagasi sempat beli ice cream dulu baru kemudian papa muncul. Kemudian naik bus patas menuju wisma di daerah Slipi dan sampai disana langsung istirahat karena udah kecapean dan emang udah malam.

Tanggal 10, hari sabtu, janjian sama mb Menik & mas Devi. Baru ketemu lagi setelah hampir 2 tahun, terakhir ketemu mereka di Bali waktu mereka masih tinggal disana. Sekitar jam 11an kita dijemput di wisma dan dianterin (karena tujuannya emang by request… hehehe…) ke Grand Indonesia. Sampai disana muter-muter bentar, trus ditraktir di resto jepang (namanya lupa), muter-muter lagi, trus dianter kerumah tantenya si papa di daerah Pondok Gede. Malem itu kami nginap disana. Besoknya diajakin jalan2 sama bunda Shinta & tante Ratu ke taman matahari di bogor. Tapi sayangnya pas sampe sana hujannya deras banget, akhirnya kita putar balik dan main di Cibubur Junction aja. Hehehe… Kemudian sorenya balik ke wisma naik taksi.

Sejak senin, tanggal 12, cuaca di daerah Slipi kurang enak buat jalan2 karena hujan dan angin kencang, apalagi aku berdua sama Isan kalo mau keluar, jadinya kebanyakan kami cuma di wisma aja. Kalaupun keluar palingan ke tempat2 yang dekat aja, kaya Mall Taman Anggrek, Senayan City, Mall Ambasador-ITC Kuningan, atau Plasa Semanggi. Beberapa janji sama temen yang mau ketemuan juga akhirnya batal… L Kata temenku yang kerja di perusahaan minyaknya Bakrie, mungkin feng sui-nya lagi ga cocok. Hehehe… Maafin aja ya….

Rencananya kan aku & Isan mau balik ke Makassar tanggal 16, tapi kata si papa mendingan ga usah aja daripada Isan mesti bolak balik naik pesawat. Si papa sampai sekarang memang masih suka khawatir kalo anak2nya naik pesawat, khawatir sama efek tekanan udara bagi telinga anak2… Dan jadilah aku & Isan tetap di Jakarta menunggu kk Ghazi beserta ato’dan nenek datang menyusul..

Meskipun selama di Jakarta bisa dibilang aku seneng2 aja, tapi rasa kangen sama Ghazi tetap aja berasa banget. Bahkan seringkali tiap mau tidur aku curhat dulu sama si papa tentang kangenku terhadap Ghazi… Mungkin ini yang namanya ikatan emosional ibu dan anak ya…. J

Tanggal 17, hari sabtu, kami ketemuan lagi sama mb Menik & mas Devi di Plasa Semanggi untuk kemudian sama2 berangkat ke Bogor. Sore sekitar jam 3an kami berangkat. Sampai di Bogor langsung ke FO yang kalo ga salah namanya Bogor Boutique dan Parkir. Makan batagor dulu di depan FO baru kemudian masuk ke dalam. Setelah itu menuju rumah sahabatku Ophie di daerah Sindang Barang yang ternyata kebetulan searah dengan rumah orang tua mb Menik. Sampai dirumah Ophie disuguhin makan malam ayam geprak, makan bareng Bayu (suami Ophie). Besok paginya sarapan di Taman Yasmin, trus liat FO baru yang namanya Rumah Gaya. Setelah itu berburu roti unyil, macaroni panggang, dan apple pie. Sempat mampir di Kebun Raya Bogor dan ngasih makan rusa dengan wortel yang dijual sama ibu2 disekitar Kebun Raya.

Sekitar jam 1 parkir di Taman Topi dan jalan sedikit menuju stasiun kereta. Tadinya kita berencana pulang nebeng mb Menik lagi, tapi trus si papa punya ide untuk naik kereta katanya biar Isan punya pengalaman baru lagi secara Isan belum pernah naik kereta. Jadilah jam 14.20 kami naik kereta Pakuan Express menuju Jakarta. Kami turun di stasiun Gambir dan bukannya pulang ke wisma tapi malah langsung main ke Mall Taman Anggrek. Hehehe… Kebetulan sudah dekat Imlek, jadi di mall-mall sering ada barongsai, dan Isan suka banget nonton barongsai.

Hari Senin, tanggal 19, sibuk nyari hotel untuk nenek&ato’. Tadinya mau nginap sama2 di wisma tapi ternyata kamarnya udah penuh. Kebetulan memang lagi banyak acara seminar dan pelatihan.

Hari Selasa, tanggal 20, main ke Mall Ciputra sekalian liat hotelnya, tapi ternyata ga sesuai budget. Hihihi….

Hari Rabu, tanggal 21, jemput kk Ghazi, ato’&nenek di Cengkareng dan akhirnya kami berlima nginap di Hotel Twin Plasa. Enaknya karena hotel ini dekat dengan wisma, jadi papa bisa nyamperin sorenya setelah pelatihan.

Hari Kamis, tanggal 22, kami (si papa ga ikut) main ke Tanah Abang Blok A. Tapi ternyata “pasar” bukan tempat yang menarik buat Isan, karena begitu sampe disana dia minta pulang. Hihihi… Jadi ga bisa lama-lama deh…

Hari Jumat rencananya mau ke Istiqlal biar Ato’ bisa sekalian sholat jumat disana tapi ternyata waktunya ga keburu karena kita harus check out dari hotel dan gabung sama papa di wisma. Sampai di wisma ternyata nenek & ato’ dijemput sama puang Ida (sepupu nenek) dan diajakin nginap di Ciledug. Jadilah kami sekeluarga saja menikmati liburan di Jakarta. Hihihi….

Hari sabtu, tanggal 24, hari lagi cerah. Sesuai rencana kami berangkat ke Dufan. Berhubung Isan sudah mulai pilek, jadi kami cuma main di wahana yang safety aja yaitu komidi putar (kuda2an kata Ghazi & Isan), istana boneka dan bianglala. Lalu makan siang di McDonald.

Sejak awal yang dicari-cari Isan dan Ghazi adalah lumba-lumba, maka lanjutlah kami ke Gelanggang Samudra untuk nonton pertunjukan lumba-lumba. Isan seneng banget karena waktu pertunjukan lumba2 itu ada barongsai-nya juga. Menjelang sore kami kembali ke wisma.

Hari minggu, tanggal 25, karena ga pengen anak2 terlalu capek tapi tetap pengen anak2 have fun jadinya kami ke Mall Taman Anggrek aja nemenin mereka main di Timezone.

Lagi-lagi ada barongsai, Isan kegirangan dan Ghazi ketakutan. Hahahaha…

Hari senin, tanggal 26, pas libur Imlek. Iseng-iseng kami ke Mall Of Indonesia di daerah Kelapa Gading. Tempat mainya memang cukup menarik tapi masalahnya disana ga ada atm selain BCA, jadinya kami batal berlama-lama disana. Kemudian kami menuju Grand Indonesia, tapi sebelumnya mampir foto2 di Monas. Tapi ga bisa lama2 karena takut keburu hujan.

Sampai di Grand Indonesia kami makan dulu, baru kemudian nemenin anak2 main di Fun World. Komidi putar, mini wheel, kereta2an, dan terakhir monorel. Hihihi…

Menjelang malam kami kembali ke wisma.

Hari selasa, tanggal 27, sore kami ke Senayan City diajak makan malam sama puang Ilham Bintang di resto Mandarin Spicy kemudian mampir sebentar di apartement beliau di lantai 27.

Malam itu ato’ dan nenek baru deh gabung sama kami di wisma.

Tadinya kami berencana kembali ke Makassar tanggal 31, tapi ternyata jadwal pelatihan papa di percepat dan akhirnya kami kembali ke Makassar tanggal 29 dengan pesawat Airasia.

Alhamdulillah untuk semuanya ya Allah…. J

Thursday, October 04, 2007

tugas alias timpukan...

Ceritanya gw dikasi tugas sama Titien dengan peraturan sbb:

Inget-inget aturannya !

(1) Each Blogger starts with eight random facts/habits about themselves

(2) Blogger that are tagged need to write on their own blog about their eight things and post these rules. At the end of your blog,

(3) You need to chooce 8 people to get taggand list their names

(4) Don't forget to leave them a comment telling them they've been tagged to read ur blog.

Nah….. gw ketika mau ngerjain “terganjal” oleh peraturan no.3 karena temen2 yang gw punya di MP masih dikit banget, itupun udah pada ngerjain tugas ini… Jadi….????

Monday, October 01, 2007

catatan kemarin

Ga tau kenapa sejak habis bangun pagi ini aku ngerasa ga enak, ga mood gitu. Tapi berusaha aku cuekin karena kupikir mungkin ini bagian dari godaan orang yang sedang puasa. Jadi aku lanjutin aja aktivitas seperti yang kurencanakan, yaitu bersih-bersih. Mumpung lagi dirumah.

Jam 8 anak-anak sudah pada mandi dan sudah rapi, siap untuk diajak jalan-jalan. Tapi si papa masih sibuk dengan pekerjaan listriknya, gantiin colokan yang kelihatan ga safe lagi. Maka aku juga lanjutin aja bersih-bersihnya.

Jam 9 semua pekerjaan beres dan kami pun segera mandi, kasian liat anak-anak yang sudah pada cakep mulai gelisah nunggu.

Kurang lebih jam 10 kami semua sudah ready, lalu tiba-tiba listrik padam. Papa segera menghampiri handy talkie-nya.

“Wah, ada black out, ma…”

Aku langsung duduk lemes di ruang tamu. Kalo ada black out artinya papa harus segera ke kantor untuk koordinasi dengan teman-temannya, dan itu artinya rencana jalan-jalan batal.

Akhirnya aku pasrah (meskipun rada sebel) nganterin papa ke pintu untuk segera ke kantor. Aku lalu nongkrong di ruang tamu sambil baca bukunya Asma Nadia, dkk (Karenamu Aku Cemburu), belum mau ganti baju karena masih berharap papa ga lama-lama di kantor.

Beberapa saat kemudian seorang ibu nelpon,

“Yul, tanyain sama suamimu dong kenapa listriknya mati.”

Halah! Ga penting banget seh kataku dalam hati. Lagian listriknya mati baru sekitar 15 menit dan baru kejadian sekali ini setelah sekian lama ga pernah listrik padam.

Sempat kepikiran juga, jangan-jangan ini ibu masih saudara sepupu sama sepupunya ipar kakaknya gubernur, sampe-sampe kayanya penting banget dia mesti tau kenapa listrik padam dan itu sangat mengganggu hidup dia.

“Aku ini baru aja nginep di hotel gara-gara 2 hari air dirumahku ga ngalir, trus baru hari ini aku pulang katanya semalam airnya ngalir tapi sekarang mati lagi karena listriknya padam.”

Hah??!!!

Aku yang lagi ga mood atau emang ni orang yang manja banget seh???

Kalo aku seh…(berdasarkan pengalaman selama ini), kalo air di rumah ga ngalir aku justru standby di rumah, ga bakal ninggalin rumah. Aku bakal berjaga-jaga sepanjang malam dengan beberapa ember dan baskom untuk menampung air, karena setauku air di kota Makassar jarang banget macet total. Kalopun sepanjang hari ga ngalir biasanya malam hari (biasanya setelah jam 12) bakal ngalir meskipun pelan. Kalopun ternyata benar-benar ga ngalir ya aku akan berburu air kerumah siapa saja yang airnya ngalir. Malu??? Ga banget! Hare gene malu untuk hal yang penting atawa urgent alias darurat mah ga jaman kale….

Aku yang terlalu banyak mikir atau beliau yang malas (baik mikir maupun bertindak) sampai-sampai dia segitunya mendesak untuk penjelasan tentang kenapa listrik padam.

Kalo pun aku jelasin bahwa listrik padam karena gangguan pada pembangkit di Bakaru toh dia ga bakalan (mau) ngerti juga dan malah akan butuh penjelasan lebih banyak lagi. Atau kalo aku bilang listriknya mati karena ada pohon tumbang aku yakin dia juga ga bakalan mau bantuin beresin tu pohon. Lagipula sebenarnya kan bukan wewenang saya untuk menjawab dan menjelaskan penyebab padamnya listrik itu.

Ataukah aku yang terlalu “santai” menghadapi listrik mati di siang hari (!) atau beliau yang sudah biasa berfoya-foya dengan listrik sampai-sampai kesannya dunia ini sudah berakhir kalo listrik padam. Setengah memaksa dia minta supaya listrik segera dinyalakan lagi karena dia punya anak bayi (mungkin bayinya mau dengerin radio atau main PS kali…). Seolah-olah listriknya diatur cuma dengan tombol on-off dan tombol itu yang megang suami gw….!! Cape deh…

Haloooo…. beliau minta listriknya dinyalakan segera sementara beratus-ratus (bahkan mungkin juta) orang di SULSEL (!!!!!) juga mengalami kejadian yang sama.

Asli aku Cuma bisa gregetan dan geleng-geleng kepala, ternyata ada juga ya orang yang berpendidikan tinggi yang ga mau berpikir tentang proses, tapi maunya langsung ke hasil, itupun hasilnya harus yang sesuai dengan kebutuhan dia. Seolah-olah semua masalah bisa selesai hanya dengan menelpon dan memerintah. Padahal menurutku orang yang berpendidikan mestinya memikirkan tentang sebab-akibat, tentang proses, dan tentang pembelajaran. Seperti seharusnya orang mampu berpikir tentang orang yang tidak atau kurang mampu supaya bisa lebih bersyukur. Kan kalo orang yang sudah diatas litany ke atas ga akan pernah ada puasnya dong… yang ada buasnya…

Hah…. (sayangnya) aku cuma bisa beropini…..

Thursday, September 20, 2007

cerita tentang kakak ghazi

Ada julukan baru buat kakak dari papa, pemain sinetron. Ini karena kakak sekarang suka banget acting, suka pura-pura dan papa suka ketipu sama tingkahnya. Hehehe…. Misalnya beberapa hari yang lalu waktu papa pulang dari kantor, ketika masuk ke kamar dia lihat kakak lagi tutup mata alias tidur jadi papa naruh tasnya pelan-pelan dan pelan-pelan juga deketin kakak untuk dicium (kebiasaan papa kalo balik dari kantor, mencium anak2nya…:-D). Waktu udah dekat si kakak langsung buka mata sambil ketawa cekikikan. Muka jahilnya keluar… Hahaha…

Begitu juga waktu dia disuruh mandi sore kemarin. Kakak sedang main dengan si mbak pekerja rumah tangga kami di garasi sambil ketawa-ketawa, sedangkan adek lagi dimandikan sama babysitter-nya. Sesuai kebiasan kalo adek sudah kelar mandinya giliran kakak mandi. Begitu papanya manggil, “Kakak, ayo mandi dulu…” kakak langsung lari masuk ke rumah. Tapi bukannya siap-siap buka baju dia malah mengambil botol susunya di meja lalu tiduran di depan tivi dan bilang, “Bobo susu dulu.” Karena ga mau mandi dia pura-pura minum susu biar ga disuruh mandi. Hahaha…

Alhamdulillah si kakak sekarang tetap sehat dan tambah cerdas. Meskipun tidak segendut adek tapi paling tidak dia makan dan tidur yang cukup dan teratur, serta tidak sakit. Kalo makan nasi sukanya pake telur dadar, tempe goreng dan nugget. Sayangnya dia ga terlalu suka sayur, tapi mau makan buah. Sekarang dia lagi sibuk mondar mandir sambil makan roti tawar pakai nutella, kesukaanku waktu lagi mengandung dia. Hehehe… Sekali-sekali dia minta di belikan pizza, rotiboy, atau ayam goreng Kentucky. Sepertinya dia lebih suka makan roti daripada nasi, karena kalo roti bisa kuat dia makan sampe bener-bener ga sanggup makan lagi sedangkan kalo nasi kadang belum habis sudah minta berhenti. Mungkin menunya bukan menu ideal atau menu sehat untuk anak seusia dia, tapi buat aku yang penting dia mau makan. Karena sebelumnya aku sudah sempat mengalami masa-masa frustasi untuk menyuruhnya mau makan. Fuih… bener-bener bikin bingung waktu itu. Mungkin karena aku terlalu idealis untuk ngikutin yang tertulis dibuku-buku mengenai pengasuhan bayi dan anak, tentang pola dan menu makanan sehat. Yang ada waktu itu aku harus kejar-kejaran sama dia karena dia ga suka dan ga mau makan. Segala vitamin penambah nafsu makan juga di cobain karena khawatir sama “ke-ogah-an” si kakak untuk makan. Untungnya dia masih rajin minum susu. Tapi tetap aja akhirnya dia ga terlalu sehat, jadi gampang sakit. Dan kemudian aku mengalah memberikan sesuai keinginan dia aja, bukan keinginanku. Hahaha… Satu pembelajaran buatku.

Pernah satu waktu ketika aku keluar berdua dengannya untuk suatu urusan di bank, sepulang dari sana kita berpapasan dengan anak-anak sekolah dasar yang baru pulang sekolah.

“Mama, banyak kakak-kakak sekolah,” katanya.

“Iya.”

“Besok kakak ghazi mau sekolah ya,” katanya lagi.

“Iya.”

“Besok beli sepatu ya, ma.”

“Untuk apa, kak?”

“Untuk sekolah. Nda boleh pake sepatu ini kalo sekolah,” jawabnya sambil menunjuk sepatu jalan-jalannya yang berwarna putih.

Hahaha…. Bisa aja si kakak.

Jangan coba-coba memberikan jawaban “menggantung” padanya karena bisa-bisa obrolannya jadi panjang. Sepeti waktu kami sekeluarga lagi jalan-jalan di hari sabtu lalu, si kakak berdiri dikursi belakang sambil memperhatikan mobil-mobil lain.

“Mama, ada panther kaya punya kai di belakang…” (Kai adalah panggilan untuk kakeknya di Balikpapan)

“Iya.”

Kemudian…

“Ma, panther-nya ilang. Kemana, ma?”

“Udah di depan, kakak.”

“Kenapa di depan?”

“Karena sopirnya buru-buru.”

“Kenapa buru-buru?”

“Karena takut pagarnya nanti ditutup.”

“Pagarnya siapa yang ditutup?”

“Pagarnya rumahnya panther.”

“Siapa yang punya rumah?”

Gubraks…. Langsung aja si papa sibuk ngetawain aku yang kebingungan sendiri.

Ada satu kebiasaan lucunya (menurutku) kalo mau tidur, dia suka mencari sudut bantal untuk dipegang. Jadi tangan yang satu pegang botol susunya, tangan yang lain meraba-raba ujung bantal. Dan harus ujung bantal yang kotak, ga bisa ditukar dengan guling atau benda-benda lain. Kadang-kadang dia terbangun tengah malam untuk kemudian memperbaiki posisi tidurnya agar bisa memegang ujung bantal. Hahaha…

Paling nikmat memperhatikan wajahnya ketika dia tidur. Rasanya bahagia sekali memiliki dia… Dan aku menyayanginya.

perjalanan ke KL (agustus'07)

Bulan lalu aku dan suami punya waktu buat jalan-jalan lagi ke Kuala Lumpur. Jadi ceritanya suamiku ada urusan di Batam beberapa hari dan tersisalah weekend yang bisa kami “manfaatkan” sendiri. Waktu dia bilang ada urusan ke Batam tiba-tiba aku punya ide untuk “bersantai sejenak” ke Singapore, secara dari Batam naik ferry ke Singapore cuma kurang lebih 1jam ya kenapa ga di manfaatin…? Hehehe… Ternyata dia punya ide yang lebih oke dari ideku, yaitu melanjutkan perjalanan dari Singapore ke Kuala Lumpur dengan naik bis. Baru kali ini nih suamiku mau diajak “berpetualang” karena sebenarnya kami belum pernah melakukan perjalanan dari Singapore ke KL atau sebaliknya dengan menggunakan bis, biasanya kami naik kereta KTM Senandung Malam. Kata suamiku selain cari pengalaman baru kami juga harus bisa memanfaatkan waktu soalnya waktu kami “terhad” kata orang Malaysia alias terbatas. Kalo naik kereta mengambil masa 10 jam sedangkan naik bis sekitar 4-5jam. Okeh, bos. Dan aku mulai mencari tiket pesawat KL-Jakarta via internet. Tadinya mau sekalian booking hotel via internet tapi suamiku ngotot bilang kami go show aja alias nyari hotelnya ntar sampe di KL aja. Mungkin karena dia pikir toh KL bukan tempat yang asing buat kami jadi tenang aja, pasti ada tempat buat tidur.

Langsung ke hari kamis setelah beberapa hari kami di Batam, sesuai rencana kami berangkat naik ferry dari terminal Batam Centre menuju Harbor Front di Singapore. Sekedar info, harga tiket ferry Batam-Singapore-Batam adalah sing$14 (84ribu rupiah) dan berlaku setahun. Jadi dari Batam ke Singapore hari ini dan baru mau balik bulan depan atau 3 bulan lagi ataupun besoknya tiketnya masih bisa dipake. Hampir tiap jam ada ferry dari Batam Centre ke Harbor Front dan sebaliknya. Dan kapalnya bersih dan dingin. Waktu itu kami berangkat jam 12 siang. Alhamdulillah 1 jam kemudian kami sudah bisa melewati pulau Sentosa, melihat gondola atau skyway atau kereta gantung dan beberapa saat kemudian sudah di counter check-in immigration of Singapore.

Karena belum makan siang dan kami hendak segera lanjutkan perjalanan ke Johor Baru jadi kami langsung aja cari food court terdekat disitu. Dan setelahnya lanjut naik taksi menuju Check Point, tempat imigrasi keluar dari Singapore menuju Johor Baru. Ternyata Dari Check Point itu kami harus naik bis dulu untuk sampai ke pemeriksaan imigrasi Malaysia di Johor Baru, dan untuk naik bis kami harus membayar tambangnya (ongkos kalo orang kita bilang) dalam ringgit Malaysia. Untungnya aku membawa “tabungan Malaysiaku” yaitu beberapa lembar uang 1 ringgit. Hehehe…

Dari pemeriksaan imigrasi di JB kami naik taksi menuju terminal bis Larkin. Dan tiba disana kami langsung beli karcis bis Transnasional JB – KL seharga RM24 (62ribu rupiah). Karena bisnya baru akan berangkat kurang dari 1 jam lagi (yaitu jam 7 malam) jadi kami memutuskan untuk makan malam saja saat itu. Jadi kalo pagi kami sarapan di Batam, makan siang di Singapore, kali ini makan malam di Johor Baru. Hehehe… ternyata bukan pejabat dan pengusaha aja yang bisa makan di tiga Negara dalam sehari ya…. :-P

Bisnya nyaman, bersih dan dingin. Jam 7 lewat bis kami berangkat dari terminal Larkin di JB menuju terminal Pudu di KL, dengan satu kali mampir di sebuah pertokoan (tapi pastinya dimana aku gat au, soalnya setengah tidur dan ga ikutan turun dari bis buat beli makan atau sekedar pipis… hehehe…). Pukul 11 malam aku mulai bangun meskipun masih ngantuk dan bis kami mulai melewati kawasan Mines Resort yang berarti tempat tinggal kami dulu sudah terlewat. Dan pukul 12 kami benar-benar tiba di Pudu.

Satu hal yang tidak kami perhitungkan dengan baik adalah bahwa kami ke KL di bulan agustus yang merupakan bulan kemerdekaan Malaysia dan bulan Mega Sale Carnival! Dan itu artinya banyak banget turis (terutama dari Timur Tengah) dan hotel2 pada full. Bener aja, 4 hotel di daerah Bukit Bintang dan 2 hotel di Mid Valley yang kami datangi sudah tidak punya kamar kosong. Untunglah akhirnya atas bantuan si sopir taksi kami dapat kamar di salah satu hotel di daerah Pudu (ternyata balik lagi ke Pudu yah… :-P). Meskipun masuk daerah Pudu tapi kita bisa jalan kaki hanya 5 menit ke Berjaya Times square di daerah Bukit Bintang. Kamar hotelnya pun meskipun kecil tapi nyaman dan bersih. Dan sekitar setengah 2 kami akhirnya bisa istirahat untuk menyambut pagi yang bakal sibuk karena sudah ada agenda panjang disiapkan….

Wednesday, September 19, 2007

belum sempat...

banyak yang pengen gw tulis, gw ceritain... tentang jalan2 gw ke KL, tentang si kakak yang sekarang udah kaya pemain sinetron (padahal suer gw ga suka nonton sinetron kecuali Eneng di RCTI dan Entong di TPI... hehehe..), tentang novel yang baru selesai gw baca, tentang ramadhan, tentang rencana bebas fiskal tahun 2010....

tapi gw bingung mau mulai yang mana dulu. dan itu pun ga bisa sekarang karena gw belum sholat isya dan taraweh... hehehe...

so, see you in the next story (seperti kata Diego di tiap akhir cerita di Nick di Global TV :P)

Tuesday, September 18, 2007

Hari pertama yang melelahkan… (catatan liburan tgl 20 Agustus 2007)

Hari pertama liburanku ini dimulai dari jam 6 pagi ketika aku dan suami sudah siap untuk berangkat ke airport. Taksi sudah menunggu di luar tapi anak-anak belum bangun, jadi aku coba membangunkan mereka satu per satu. Yang pertama si adek dulu karena biasanya jam segini dia memang sudah bangun. Waktu aku masuk ke kamarnya ternyata dia memang sudah “setengah bangun”, lagi leyeh-leyeh sambil minum susunya dan begitu melihatku dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang baru 7 biji. Hihihihi… Kuciumi wajahnya lalu dia digendong sama nenek. Kemudian giliran si kakak yang aku bangunkan, tapi yang dicari malah si papa…

“Papanya aja gendong....,”katanya. Memang kalo ada si papa untuk urusan si kakak seh mamanya ga laku. Huuu… Bersama ato dan neneknya serta pengasuh si adek, kedua anakku mengantar kami sampai ke pagar.

Taksi ngebut mengantar kami ke airport jadi bisa check-in sebelum jam 7. Jam 8 beangkat ke Jakarta dengan Lion Air dan alhamdulillah tiba dengan selamat jam 9 lewat waktu Jakarta. Terdapat perbedaan waktu satu jam antara Jakarta dan makassar, waktu di Jakarta lebih lambat daripada waktu makassar... seperti kata pramugarinya. Hehehehe…

Berhubung dari rumah belum sempat makan dan di pesawat Cuma dapat air mineral, jadi begitu keluar dari pesawat dan melapor kami buru-buru cari makanan karena menurut jadwal kurang lebih satu setengah jam lagi kami harus boarding untuk keberangkatan ke Batam.

Setelah mengisi perut dengan soto ayam dan membeli Koran kami menuju ruang tunggu, tapi ternyata jadwal yang tertera pada screen didepan ruang tunggu memberitahukan bahwa keberangkatan kami ditunda menjadi jam 12 dan di gabung dengan penerbangan ke Pekanbaru. Selama di ruang tunggu aku sempat chat dengan sahabatku di bogor dan menegaskan kabar bahagianya… (selamat ya, jeng… :-D).

Lalu ruangan mulai terasa “panas” ketika ada seorang penumpang tujuan Pekanbaru tiba-tiba kedengaran marah-marah di meja petugas. Katanya dia udah nunggu sejak jam 10 pagi tapi kok sampai sekarang ga ada kejelasan kapan bakal berangkat. Ternyata bukan Cuma kami yang udah capek nunggu dan saat itu sudah jam 1 siang. Dan suasana panas itu terus berlanjut sampai jam 2 lewat kami diminta untuk naik pesawat yang katanya sudah selesai diperbaiki. Ketika si bapak yang tadi marah-marah di ruang tunggu itu masuk ke dalam pesawat ternyata marahnya belum habis, sambil teriak dia bilang sama pramugari kalo dia lapar dan minta makan. Asli! Perasaan aku waktu itu jadi ga enak banget, was-was… Khawatir karena harus berangkat dengan pesawat yang baru aja dibenerin dan khawatir karena harus berangkat dengan penumpang yang ngamuk2. Dan setelah menunggu (lagi) beberapa waktu di dalam pesawat sambil kipas-kipas akhirnya pramugari mengumumkan bahwa para penumpang disuruh turun karena ternyata pesawatnya belum benar-benar kelar dibenerin. Gubraks! Aku langsung bilang sama suami sebaiknya kami coba cari pesawat lain aja dan dia setuju. Tapi sayangnya ternyata hari itu penerbangan ke Batam schedule-nya ga jelas. Entah mengapa penerbangan hari itu (terutama Lion Air) sepertinya agak kacau. Di ruang tunggu keadaannya jadi ga karu-karuan karena banyak orang yang tidak mematuhi larangan untuk tidak merokok disitu, belum lagi penumpang yang numpuk karena keberangkatan yang ditunda dan penumpang yang marah-marah karena capek nunggu dsb. Akhirnya pihak Lion menyiapkan makan siang sebagai kompensasinya, hanya saja jumlahnya tidak mencukupi… buktinya aku dan suami ga kebagian. Hiks…

Dan akhirnya kami dipersilahkan naik pesawat jam 3. Yang melegakan adalah, kami naik pesawat yang lain bukan pesawat yang beberapa kali dibenerin tapi ga beres-beres itu. Dan, penumpang yang marah2 itu memutuskan untuk pindah penerbangan yang lain. Fuihhhh.....

Penerbangan dari Jakarta ke Pekanbaru ditempuh dalam 2 jam. Tiba di Pekanbaru kami disuruh turun karena katanya pesawat mau dibersihkan, tapi ternyata kemudian kami harus berlari-lari karena beberapa saat kemudian sudah ada panggilan untuk keberangkatan ke Batam (kalo gitu ngapain disuruh turun segala seh, mbak pramugari...?). Penerbangan ke Batam dari Pekanbaru ditempuh dalam waktu 30 menit, jadi prediksinya kami tiba di hotel jam 6 dengan memperhitungkan perjalanan dari airport ke hotel kurang dari 30 menit.

Sekali lagi aku diperlihatkan oleh kekuasaanNya, manusia boleh berencana tapi ga harus seperti itu pula kenyataannya... Tiba di airport Hang Nadim alhamdulillah memang 30 menit kemudian yaitu jam 5.30, tapi ternyata bagasi kami ketinggalan di Jakarta dan diikutkan pada pesawat berikutnya (jam 7.30) dan kami harus menunggu di airport.

Akhirnya kurang lebih jam 8 kami baru bisa benar-benar tiba di hotel Skyview di daerah Batam Centre (si papa ga mau nginap di daerah Nagoya, takut istrinya ”kalap”... huahahaha...). Berhubung perut kelaparan dan badan udah capek akhirnya kami memutuskan untuk makan di tetangga terdekat hotel aja, di KFC.

Kurang lebih jam 9 barulah segalanya benar-benar beres dan kami bisa istirahat. Ga kebayang kalo Batam dari Makassar bagaikan di ujung dunia, sampai2 kami harus menempuh perjalanan selama 14 jam! Dan yang kali ini aku bersyukur karena tidak mengajak para pangeranku. Ga kebayang deh bagaimana capek dan rewelnya mereka kalo mesti ikut sama mama dan papanya.

Yang jelas, terima kasih ya Allah untuk segala kasih sayangMu. Karena apa yang kami lalui hari ini adalah rencana indahMu untuk kami ;)

Saturday, August 18, 2007

Kemarin...

Dikasi judul "kemarin" karena emang kejadiannya kemarin, tanggal 17 bulan 8 tahun 2007. Berhubung kemarin ga sempat ditulis...mmm...eh....diketik maksudnya, jadi baru sekarang deh... ;-)

Setelah selama 3 tahun absen dari kegiatan yang namanya upacara kemarin gw ikut upacara dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-62 (ala-ala pembaca berita gt...:P) di halaman kantor suami. Yang rada bikin males awalnya adalah seragam yang mesti gw pake, pembagian alias jatah ibu-ibu... Bundaku aja begitu liat baju yang gw pake waktu gw mampir nganterin si kakak yang mau main ke neneknya, langsung komen: "baju begitu mah pantesnya dipake ke mantenan...". Hehehehehe.... Jadi bukan karena bajunya norak-norak bergembira, tapi justru karena baju itu terlalu cantik untuk dipake upacara. Warna merah marun dengan bunga-bunganya (bukan motif bunga-bunga!), plus selendang yang semotif dengan sarungnya. Waktu pertama terima baju itu yang kepikiran adalah bakal kegerahan. Karena yang terbayang adalah upacara-upacara jaman sekolah dulu... dengan matahari yang menyilaukan mata dan keringat bercucuran. Males aja deh pokoknya... Belum mikirin mesti berangkat sebelum jam 7 sementara sekarangkan gw punya dua jagoan cilik yang mesti diurusin dulu pagi-pagi. Tapi yang terjadi adalah aku bisa berangkat sebelum jam 7 bareng suami dan sebelumnya nganterin si sulung ke rumah neneknya biar ga sibuk rebutan mainan sama si adek dirumah yang ditemenin sama pengasuhnya.

Berdiri dibarisan belakang (biar bisa berdiri santai dan ngobrol... hihihi...), kembali merasakan aura upacara kemerdekaan. Cuacanya enak, ga panas (karena terlindung gedung berlantai 7), dan ternyata ga memakan waktu lama. Bahkan gw ikut menyanyi lagu Indonesia Raya (tapi yang 1 kuplet aja, karena belum hapal yang 3 kuplet... :P), Mengheningkan Cipta dan Padamu Negeri. Walaupun tidak betul-betul khitmad, paling tidak gw merasakan lagi yang namanya upacara. Yang asik adalah habis upacara dibagiin makanan... Horeee..... Hahahaha... Kalo urusan makan mah... :P

Dan hari ini adalah waktunya untuk mengatur pakaian, peralatan dan jadwal untuk perjalanan hari senin selama seminggu ke Batam, lanjut ke KL. Liburannnnnn....... I love vacation ;)

Monday, August 13, 2007

place d'italie

Dari jendela apartment di lantai 6 Citadines aku memandang orang-orang yang berlalu lalang tepat dibawahku. Udara dingin penghujung musim gugur mengantarkan aroma parfum mereka. Aku tidak begitu mengerti tentang parfum dan sejenisnya, tetapi yang aku tau adalah……wangi. Mereka semua berjalan dengan langkah yang cepat, dengan pakaian yang bergaya. Mobil-mobil pun seakan-akan nampak begitu bergaya dijalanan yang semakin padat diwaktu sore itu. Banyak diantara mobil-mobil itu yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya di kotaku. Kemudian aku menatap ke depan, melihat sebuah apartment yang nampaknya sudah cukup lama berada disitu.

Aku menarik nafas panjang, merasakan udara Paris yang dingin di hari itu masuk ke hidung hingga sampai di paru-paruku.

“Here I am… Bersandar pada jendela menatap sebagian kecil dari kehidupan di Paris…. Berada sangat jauh dari tanah air tetapi masih berada di bumi yang menikmati bulan dan matahari yang sama….”

Sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya berada jauh dari kota kelahiran, bahkan dari ibukota tanah air. Selama ini aku hanya merasa kagum pada orang-orang yang bisa bepergian keluar negeri, atau kagum pada cerita di majalah tentang keindahan atau keunikan negara-negara lain. Tetapi waktu itu aku tidak merasa perlu membayangkan bahwa diriku akan seperti mereka atau menyimpan keinginan yang besar untuk bisa melihat Negara yang lain. Apalagi setelah Indonesia mengalami krisis ekonomi di tahun 1997 dan lengsernya Presiden Soeharto. Saat rupiah selalu stabil di 2500 per dollar aja ga kebayang dan ga pernah ke luar negeri apalagi ketika rupiah naik turun hingga mencapai 10.000 (bahkan lebih) per dollarnya.

Tapi nyatanya takdir kita tidak terpengaruh oleh berapa rupiah per dollar ataupun siapa presiden yang sedang menjabat saat itu. Dan tanggal 14 oktober 2001, setelah 8 bulan pernikahanku, untuk pertama kalinya aku berangkat keluar negeri mendampingi suami yang ditugaskan untuk mengikuti sebuah training selama dua bulan di Paris.

Penerbangan selama 14 jam, dengan satu kali transit di Hong Kong, dengan pesawat Cathay Pasific aku nikmati dengan menonton film-film baru yang ga sempat aku tonton di bioskop. Mungkin karena begitu takjub, tidak percaya, gembira dan lain sebagainya karena melakukan perjalanan keluar negeri untuk pertama kalinya rasa ngantuk sama sekali tidak datang padaku.

Begitu pula ketika tiba di bandara Charles De Gaule pada pukul 6 pagi dengan suasana seperti jam 4 subuh, aku masih punya banyak energi untuk merasa takjub. Lalu kami bertemu dengan penjemput kami yang kemudian segera mengantarkan kami ke apartment. Sepanjang jalan aku begitu menikmati mulusnya jalanan di Paris. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan anggun meskipun ketika aku ngintip speedometer sempat kaget karena menunjukkan kecepatan 120.

Sambil melihat-lihat billboard yang gede-gede dipinggir jalan dengan gambar-gambar separuh bugil aku berkata pada diri sendiri, “Selamat datang di Perancis…”

(lagi kangen Paris)

Saturday, August 11, 2007

Ditemenin...

Sekarang lagi sakit tenggorokan, bikin badan jadi meriang... Trus perut juga ga enak, kelaparan. Tapi sebenarnya lagi malas makan. Berhubung ga kepengen terbangun tengah malam gara-gara perut mengamuk ya udah minta tolong aja sama si papa untuk dibeliin nasi goreng murah meriah tapi enak di persimpangan jalan dekat mall panakukang. Sekalian si papa tukar galon di toko depan kompleks.

Si adek sudah tidur dari tadi, secara dia kecapean ngeceng di mall dan pulangnya sibuk main sama pengasuhnya jadi cuma sempat tidur siang satu kali. Padahal biasanya dia tidur siangnya dua kali sehari itupun dua jam tiap sekali tidur. Sementara si kakak dengan senang hati nemenin mamanya yang bongkar-bongkar MP baru ini. Honestly gw masih bingung neh MP mesti digimanain biar "rapi" dan enak dibaca. Tapi (sayangnya) si kakak nemeninnya sambil sibuk ngebongkar barang-barang di kamar. Yang kalender duduk sibuk di pindahin ke tempat tidur lah, yang tissue dikeluarin satu-satu dengan alasan bersihin mulut lah, trus lompat-lompatan diatas tempat tidur, dan yang mulai mengganggu adalah ikut-ikutan mencet-mencet keyboard... Halah....

Yah.... namanya juga anak-anak.... Dan berhubung aksinya semakin seru, maka tulisan ini cukup sekian dulu.

Sunday, August 05, 2007

dewasa

Kemarin seorang teman baru saja kehilangan ibunya yang tercinta, padahal baru beberapa bulan yang lalu dia kehilangan anaknya semata wayang yang baru berusia dua tahun. Ketika anaknya meninggal ia begitu shock dan terpukul, tidak menyangka akan kehilangan buah hatinya begitu cepat. Sementara sudah begitu indah rencana jangka panjang yang ia susunkan untuk anaknya itu. Dan ia butuh waktu untuk bisa pulih dari duka hatinya. Kehamilan yang kemudian terjadi dan ia dambakan mungkin merupakan salah satu obat atas dukanya itu. Tapi ditengah kebahagiaan atas kehamilannya ia dihadapkan pada kematian ibunya. Menghadapi duka sekali lagi di awal masa mengandung, masa dimana wanita cenderung labil, adalah kenyataan yang harus ia terima saat ini. Namun sepertinya sekarang dia lebih tabah. Tampaknya kali ini ia lebih bisa melapangkan dadanya untuk apa yang terjadi baginya. Mungkin waktu telah membantunya menjadi lebih dewasa dalam memahami hidup, bahwa hidup ini berproses.
Seperti kata Habiburrahman El Shirazy dalam salah satu kisahnya di novelet “Dalam Mihrab Cinta”.

Sementara itu dibelahan bumi yang lain seorang teman sedang bersedih karena menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Sebuah tuduhan diberikan oleh sang suami padanya sementara ia merasa bahwa tuduhan itu tidak benar. Sesungguhnya mereka hanyalah memikirkan dan mengartikan suatu hal dengan cara yang berbeda. Hanya saja hingga saat ini mereka belum bisa menjembatani perbedaan itu.
Menurutku sendiri mereka adalah sebuah keluarga yang bahagia, sepasang suami istri yang serasi satu sama lain dengan tiga orang anak yang lucu-lucu dan pintar-pintar. Sang suami cukup sukses dengan studinya di luar negeri yang diperolehnya dari program beasiswa dengan senantiasa menyertakan keluarga dimanapun ia berada. Sebuah keluarga yang mandiri, kaya pengalaman namun tidak pernah lupa untuk mengabdikan diri kepada sang Pencipta. Nyaris sempurna dimataku seandainya saja kisah perbedaan mereka yang belum bersolusi itu tidak kuketahui. Bukan karena masalah yang ada, tapi lebih kepada sikap dan cara mereka menghadapi masalah itu sendiri. Memang tidak ada yang sempurna didunia ini, tapi tadinya kupikir dengan pengalaman hidup mereka yang mandiri yang melanglang buana ke beberapa benua di dunia bisa membuat mereka menjadi kaya dan menjadi dewasa sehingga tampak sempurna dimata seorang aku.

Aku teringat seorang teman yang saat ini memilih tinggal di Thailand atas alasan pekerjaan. Pada satu kesempatan aku ngobrol dengan dia melalui YM dia mengatakan bahwa dia belum berkeinginan untuk kembali ke tanah air karena hendak mencari ilmu dan pengalaman hidup diluar negeri yang bisa membantunya untuk menjadi dewasa. Waktu itu aku menganggap bahwa pendapatnya itu benar, bahwa mengenal dunia seluas-luasnya bisa membantu kita melihat perbedaan-perbedaan sehingga pengajarkan kita banyak hal yang nantinya mendewasakan kita. Tapi saat ini, ketika aku merenungkan kisah dua orang temanku itu, aku berpikir bahwa sesungguhnya waktulah yang mengajarkan kedewasaan kepada kita, bukan karena kita berada dimana atau pernah kemana dan melihat apa. Bahwa kita bisa menjadi lebih dewasa dalam hidup ketika kita membuka mata hati dan pikiran kita untuk menyadari bahwa hidup itu berproses.
Seperti halnya kata seorang sahabatku melalui sms ketika aku mengeluh ingin menjalani hidup ini “biasa-biasa saja”, bahwa sebenarnya apa yang berkecamuk, apa yang menjadi beban dan apa yang jadi tekanan kembali kepada diri kita sendiri. Ketika kita mampu melihat sesuatu sesuai porsinya maka hidup ini sesungguhnya sederhana. Dan ketika kita menyadari bahwa hidup yang sederhana sekalipun itu ada prosesnya maka kita telah menuju pada pendewasaan diri. Dan ketika kita bisa menjalani proses itu dengan arif dan bijaksana artinya kita telah menjadi pribadi yang dewasa.

Dan apakah diriku telah sampai pada pencapaian itu?
Biarlah waktu yang membantuku menjawabnya……..

Tuesday, July 24, 2007

Kerja

Beberapa hari yang lalu aku mengirim sms ke beberapa teman sekaligus yang isinya:

Ini serius, tolong carikan saya kerjaan dong….

Sounds like desperate ya…? Tapi aku pikir itu adalah salah satu cara supaya aku bisa dapat pekerjaan, or at least informasi lowongan kerja.
Seperti para job hunter lainnya aku juga (berusaha untuk) rajin membaca Koran dan menengok internet untuk mencari informasi lowongan kerja dan mengajukan lamaran pada beberapa perusahaan untuk posisi yang “sesuai” buatku. Hanya saja sampai sekarang hasilnya masih nihil. Sepertinya keberuntunganku untuk bisa bekerja belum ada saat ini.
Kemudian atas saran beberapa teman aku sempat juga terpikir untuk mencoba peluang bisnis dengan membeli franchise atau sejenisnya. Tapi baru memulai beberapa langkah perencanaan semuanya jadi batal karena banyak kendala yang jujur aja aku ga siap untuk menghadapinya. Mungkin juga karena sejak awal aku ragu akan kemampuanku sendiri untuk berbisnis. Aku kurang percaya diri untuk “mengelola” uang karena aku merasa ga punya bakat (dan mungkin juga minat) untuk itu.
Dan selanjutnya kembalilah aku berburu pekerjaan dari Koran dan internet.

Yang mengusik aku untuk membuat tulisan ini adalah beberapa balasan teman yang aku kirimi sms diatas. Teman-temanku itu (mayoritas perempuan, menikah dan bekerja) membalas smsku dengan:

Udah lu di rumah aja, ga usah kerja. Urusin anak-anak aja.

atau:

Ngapain kerja, gw aja cape kerja. Tapi karena udah terlanjur ya dijalanin aja.

ada juga:

Sabar aja, nikmati aja jadi ibu rumah tangga…

Honestly, itu sama sekali bukan balasan yang aku harapkan. Apalagi oleh teman-teman wanitaku yang sudah menikah (berkeluarga) dan bekerja pula. Aku mungkin akan merasa lebih terhibur dan merasa lebih di hargai seandainya mereka menjawab:

Sorry ya, sekarang gw belum bisa Bantu soalnya belum ada lowongan di tempatku.

atau at least secercah harapan dengan:

Nanti deh kalo ada gw kabarin ya…

I mean, mereka semua toh perempuan seperti aku, tapi kok sepertinya mereka ga bisa “membaca” apa yang aku rasakan dan apa yang aku harapkan dari seorang teman. Sepertinya mereka tidak mengerti stagnasi yang aku rasakan pada posisiku sekarang ini. Padahal seperti orang-orang lain yang ingin berkembang dan terus belajar, aku juga merasa membutuhkan itu setelah selama 3 tahun ini benar-benar focus pada keluarga, terutama anak-anak.
Seingatku selama ini kita sering “meributkan” isu gender dan emansipasi wanita, tapi dalam “kasus”ku ini aku merasa kok justru para wanita sendiri yang tidak siap untuk hal-hal tersebut. Seandainya kaum kita (sorry for the guys, u’re not in it :P) memang menyadari apa yang kita (konon) perjuangkan, kita pasti akan saling menyemangati untuk bisa lebih maju. Atau setidaknya kita akan saling share untuk mencari jalan keluar yang lebih baik bagi masalah-masalah kita.

Aku sama sekali tidak berkecil hati ataupun mengecilkan hati para ibu rumah tangga, karena aku menjalani, mengalami dan merasakannya dan aku bangga atas itu. Aku hanya ingin menggali sesuatu yang lebih yang aku yakin ada dalam diriku. Aku juga seorang ibu rumah tangga, hanya saja aku merasa masih ingin belajar banyak hal, mengerjakan sesuatu selain pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga, dan memberikan kebanggaan yang lain bagi anak-anakku nantinya. Meskipun aku yakin mereka sekarang sudah cukup bangga memiliki seorang ibu seperti aku (maaf, narsis :-P), tapi aku adalah seorang ibu yang tidak pernah merasa cukup untuk bisa memberikan kebanggaan bagi anak-anak dan keluarganya.

Sunday, July 15, 2007

my best friend's wedding

Aku sudah merencanakan untuk hadir di acara pernikahan sahabatku sejak dia memberitahukan rencana lamarannya, beberapa bulan yang lalu. Bagiku adalah penting untuk menjadi salah satu saksi di hari bersejarah bagi seseorang yang bersedia berbagi suka dan duka, menyayangiku dan menerimaku apa adanya. Dia adalah orang yang juga sangat berarti bagiku selain keluargaku. Bahkan kadang-kadang aku membandingkan kebaikan dan kesetiaannya padaku dengan suamiku sendiri… Hehehe… Mungkin kedengarannya lucu atau aneh, tapi suamiku bisa mengerti. Aku rasa mungkin beberapa orang yang mengerti persahabatan, terutama persahabatan antar wanita, juga bisa memahami.

Aku menyusun rencana sedemikian rupa, dari pakaian yang akan aku pakai waktu dia siraman, akad nikah dan resepsi, tiket perjalanan, transportasi selama disana (sampai-sampai sibuk nanya-nanya, minta referensi ke teman-teman di Jakarta dan bogor, bahkan buka website untuk rental mobil), susun jadwal, booking hotel, dan sempat pusing mikirin apa si kakak dan si adek jadi di ajak atau di tinggal di nenek&kakeknya aja (meskipun mereka sudah dibelikan tiket juga). Rasa-rasanya seluruh dunia sudah tau kalo aku dan keluarga akan ke bogor untuk menghadiri acara pernikahan sahabatku.

Ketika hari minggu di H-4 keberangkatanku ke bogor aku merasa agak ga enak badan, tapi berhubung masih banyak pekerjaan rumah yang belum beres sakit-sakit sedikit itu aku biarin aja. Aku malah sibuk mikirin gimana supaya si kakak yang sejak jumat agak demam akibat panas dalam & sariawan bisa segera sembuh dan ga lemes lagi. Tapi kemudian yang terjadi adalah aku mulai demam setelah maghrib. Tenggorokanku susah untuk menelan, badanku panas tapi aku merasa dingin, dan pusing. Jam 7 malam setelah minum madu dan obat flu aku segera tidur dengan harapan besok bisa lebih baik. Sayangnya tidur malamku sangat tidak nyaman karena tenggorokanku benar-benar sakit. Dan paginya (senin, H-3 jadwal keberangkatanku) badanku panas sampai 39 derajat Celcius. Aku paksakan makan bubur buatan suamiku supaya bisa minum obat dan istirahat lagi. But I’m not going well. Malamnya aku ke dokter ahli penyakit dalam dan diberikan 4 jenis obat.

Hari selasa pagi, H-2, demamku sudah turun tapi tenggorokan masih sakit dan susah menelan (bahkan airputih sekalipun!). Jadi badan tetap lemes. Siangnya si kakak tiba-tiba terserang diare dan muntah-muntah. Sang nenek yang hari itu menemani aku dirumah jadi panic dan khawatir, karena si kakak jadi semakin lemes padahal sebelumnya saja sudah cukup loyo karena malas minum susu dan makan akibat sariawan yang merajalela di mulutnya. Sang nenek saat itu sudah berpesan agar aku membatalkan rencanaku ke bogor, tapi aku hanya diam karena dalam hati aku masih yakin bahwa kami bisa berangkat, atau setidaknya aku, suami dan si adek. Sorenya aku dan suami mengantar si kakak ke dokter. Bahkan di tempat dokter dia sempat 2x buang air dan 2x muntah. Alhamdulillah malam harinya penyakitnya itu mulai berkurang. Tapi tidak penyakitku… I’m getting worse! Kembali merasa kedinginan padahal badanku panas tinggi. Tenggorokanku terlalu sakit bahkan untuk menelan ludahku sendiri. Aku harus terbangun tiap kali harus menelan ludah.

Keesokannya (H-1) aku diantar ke rumah sakit Grestelina oleh suamiku. Aku sempat berpikir yang terburuk, bakal langsung disuruh nginap di rumah sakit! Alhamdulillah tidak perlu. Dokter yang menanganiku merujukku ke dokter THT dan aku diberi obat tenggorokan dan penurun panas saja. Malamnya suamiku pun memberikan pertimbangan untuk segera membatalkan tiket kami, tapi sekali lagi aku ga mau. Setidaknya tidak untuk tiketku karena aku masih menyimpan harapan bahwa aku akan tetap bisa berangkat meskipun sendiri. Apalagi malam harinya giliran si adek yang muntah-muntah dan diare. Sepertinya si adek tertular kakak. Malam itu juga suamiku membawa si adek ke dokter, tapi sepanjang malam ternyata kami harus begadang karena si adek cukup sering muntah dan buang air. Sedangkan aku masih agak demam dan tetap sulit menelan.

Hari kamis, hari yang seharusnya kami sekeluarga berangkat ke Jakarta untuk kemudian ke bogor, kami sekeluarga di rumah dengan kondisi yang sama sekali tidak pernah (dan tidak ingin!) kami bayangkan… Aku dengan kepala pusing akibat sisa-sisa demam dan tenggorokan masih sulit untuk menelan, si kakak yang lemes karena masih susah minum susu dan makan akibat sariwan yang bertebaran di rongga mulutnya, si adek yang muntah-muntah dan buang air akibat minum susu meskipun susunya sudah diganti dengan susu rendah laktosa, dan suamiku yang terpaksa mengambil cuti 2 hari untuk mengurus dan merawat kami… Tiketku pun hangus sudah. Tapi sekali lagi itu tetap tidak menyurutkan niatku untuk hadir di hari bahagia sahabatku. Bahkan aku masih meminta ijin suamiku untuk bisa berangkat hari jumat dan dia tidak keberatan.

Hanya saja ketika jumat tiba si adek belum kunjung membaik, dia masih muntah-muntah dan buang air. Si kakak pun masih loyo. Sedangkan aku sudah bisa menelan walaupun masih merasa sakit. Tapi sekali lagi aku meminta ijin pada suamiku untuk berangkat sabtu dengan pesawat paling pagi dan jika perlu langsung pulang malam itu juga. Aku bahkan sudah memesan tiket itu dan mengabari sahabatku yang di Jakarta yang juga akan hadir agar bersedia menjemputku di bandara lalu kami sama-sama ke bogor. Aku membayangkan akan memberikan kejutan manis untuk sahabatku jika tiba-tiba aku hadir di acara akad nikahnya. Tapi rencana tinggal rencana… orang tuaku tidak mengijinkan untuk berangkat karena melihat kondisiku yang belum pulih benar dan terutama kondisi anak-anakku.

Malam itu aku menangis…. Aku sedih karena tidak bisa hadir di hari yang insya Allah hanya ada sekali dalam seumur hidup sahabatku… Aku sedih karena aku dan anak-anakku tak kunjung sembuh…. Tapi aku paling sedih ketika menyadari bahwa semua yang aku alami ini adalah ujian dan cobaan dari-Nya tapi aku tidak berusaha untuk tabah dan pasrah pada-Nya…
Hari sabtu, 14 Juli 2007, sahabatku mengirimkan mms berisi foto kedua mempelai dengan senyum bahagia mereka… Dan aku menangis… aku bahagia untuk mereka…. Aku bahagia untuk sahabatku…

Dearest ophie dan bayu…
Kami sekeluarga mengucapkan selamat membangun keluarga baru yang insya Allah bahagia, langgeng dan penuh berkah. Mohon maaf sebesar-besarnya karena kami batal hadir. Kalian mungkin gat au betapa kecewanya gw karena ga bisa jadi salah satu saksi di hari bersejarah kalian. Tapi yang pasti kami doakan yang terbaik untuk kalian. One request from us: jangan kelamaan nambah anggota keluarganya ya… ;-)


Yang jelas satu hikmah yang pasti dari semua ini… Kita hanya bisa merencanakan, Allah jualah yang menentukan segalanya… Dan insya Allah itu adalah yang terbaik untuk kita. Amin.

Monday, April 09, 2007


Aku, ibu dari Ghazi (1tahun, 10bulan) dan Ghaisan (10bulan).