Sunday, October 23, 2005

Untuk buah hatiku tersayang....

Bila Ibu Boleh Memilih

Oleh: Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)


Anakku...
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak...
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman,
karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar,
atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kitaberdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah...
Saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah
atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu
Maka ibu memilih menyusuimu
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku...
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku...
Hidup memang pilihan...
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak...
Maafkan ibu...
Maafkan ibu...
Percayalah nak,
ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak...
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak...
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu...

Saturday, October 22, 2005

penghormatan terakhir

hari ini langit gelap... hujan turun perlahan...
seperti biasa pagiku disapa oleh radio...
tapi hari ini ga ada suara penyiar yang biasanya sibuk ngoceh dan bagi-bagi kuis... hari ini yang terdengar hanya lagu-lagu instrumen yang sambung menyambung...
sempat kepikiran, "mungkin karena hujan jadi penyiarnya telat atau males datang kali...." hehehe...
diiringi senandung radio yang bikin suasana pagi tambah sayu, aktivitas harianku tetap jalan.... walaupun jadi rada "sayu" juga..
sambil memandikan jagoanku, aku ikut bersenandung mengikuti irama yang diputer di radio
sempat kepikiran juga, "jangan-jangan penyiarnya kecelakaan..."
tiba-tiba suara penyiarnya kedengaran dengan nada sendu, dan aku cuma mendengar kata "passing"...
"hah! meninggal ya, pa?" tanyaku ke papa jagoanku.
"emangnya siapa yang meninggal?"
"itu yang di radio..."
"iya, siapa?"
"kalo ga salah tadi ada disebut prime minister... jangan-jangan istrinya..."
"kok kamu bisa kepikiran gitu?"
"soalnya kan istrinya emang lagi sakit, kanker payudara. tempo hari berangkat ke LA buat berobat..."
"ah, wong denger beritanya aja ga jelas malah dibahas..."
dan stop sampai disitu...
sampai beberapa waktu kemudian aku chat dengan tetangga. statusnya "my condolence for Pak Lah and family".
"radio ga siaran neh..."
"iya, katanya seh sampai hari senin. demi menghormati almarhumah. di tv juga. semua stasiun tv nyiarin pengajian aja..."
"o'ya? belom nyalain tv neh..."
"liat aja.."
sambil mangku si kecil, aku nyalain tv. bener aja... semua siarannya pengajian.
aku pikir, bagus juga... itung-itung sekalian ngaji untuk hari ini di bulan Ramadhan.
entah apa, bagaimana dan kenapa... tiba-tiba air mataku meleleh satu-satu...

setelah sholat Azhar, aku, si kecil dan papanya menyimak upacara pemakaman Allahyarham Yang Berbahagia Datin Endon Mahmoed, istri perdana menteri Malaysia, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi di TV3.
sepanjang siaran itu berlangsung, ada satu hal yang mengusik pikiranku.
berulang kali penyiar menyebutkan, "para pemimpin negara sahabat dan orang ramai datang untuk memberikan penghormatan terakhir..."
kenapa disebut penghormatan terakhir?
apakah setelah itu orang-orang tidak akan lagi menghormati almarhumah?
apakah apabila seseorang telah meninggal, maka selanjutnya orang itu tidak perlu lagi kita hormati?
bukankah rasa hormat itu seharusnya berkekalan?
orang yang kita kenal sebagai orang yang baik hingga akhir hayatnya, tentu akan kita kenang sebagai orang yang baik kan...?
jadi menurutku begitu juga dengan penghormatan atau rasa hormat.