Kerja
Beberapa hari yang lalu aku mengirim sms ke beberapa teman sekaligus yang isinya:
Ini serius, tolong carikan saya kerjaan dong….
Sounds like desperate ya…? Tapi aku pikir itu adalah salah satu cara supaya aku bisa dapat pekerjaan, or at least informasi lowongan kerja.
Seperti para job hunter lainnya aku juga (berusaha untuk) rajin membaca Koran dan menengok internet untuk mencari informasi lowongan kerja dan mengajukan lamaran pada beberapa perusahaan untuk posisi yang “sesuai” buatku. Hanya saja sampai sekarang hasilnya masih nihil. Sepertinya keberuntunganku untuk bisa bekerja belum ada saat ini.
Kemudian atas saran beberapa teman aku sempat juga terpikir untuk mencoba peluang bisnis dengan membeli franchise atau sejenisnya. Tapi baru memulai beberapa langkah perencanaan semuanya jadi batal karena banyak kendala yang jujur aja aku ga siap untuk menghadapinya. Mungkin juga karena sejak awal aku ragu akan kemampuanku sendiri untuk berbisnis. Aku kurang percaya diri untuk “mengelola” uang karena aku merasa ga punya bakat (dan mungkin juga minat) untuk itu.
Dan selanjutnya kembalilah aku berburu pekerjaan dari Koran dan internet.
Yang mengusik aku untuk membuat tulisan ini adalah beberapa balasan teman yang aku kirimi sms diatas. Teman-temanku itu (mayoritas perempuan, menikah dan bekerja) membalas smsku dengan:
Udah lu di rumah aja, ga usah kerja. Urusin anak-anak aja.
atau:
Ngapain kerja, gw aja cape kerja. Tapi karena udah terlanjur ya dijalanin aja.
ada juga:
Sabar aja, nikmati aja jadi ibu rumah tangga…
Honestly, itu sama sekali bukan balasan yang aku harapkan. Apalagi oleh teman-teman wanitaku yang sudah menikah (berkeluarga) dan bekerja pula. Aku mungkin akan merasa lebih terhibur dan merasa lebih di hargai seandainya mereka menjawab:
Sorry ya, sekarang gw belum bisa Bantu soalnya belum ada lowongan di tempatku.
atau at least secercah harapan dengan:
Nanti deh kalo ada gw kabarin ya…
I mean, mereka semua toh perempuan seperti aku, tapi kok sepertinya mereka ga bisa “membaca” apa yang aku rasakan dan apa yang aku harapkan dari seorang teman. Sepertinya mereka tidak mengerti stagnasi yang aku rasakan pada posisiku sekarang ini. Padahal seperti orang-orang lain yang ingin berkembang dan terus belajar, aku juga merasa membutuhkan itu setelah selama 3 tahun ini benar-benar focus pada keluarga, terutama anak-anak.
Seingatku selama ini kita sering “meributkan” isu gender dan emansipasi wanita, tapi dalam “kasus”ku ini aku merasa kok justru para wanita sendiri yang tidak siap untuk hal-hal tersebut. Seandainya kaum kita (sorry for the guys, u’re not in it :P) memang menyadari apa yang kita (konon) perjuangkan, kita pasti akan saling menyemangati untuk bisa lebih maju. Atau setidaknya kita akan saling share untuk mencari jalan keluar yang lebih baik bagi masalah-masalah kita.
Aku sama sekali tidak berkecil hati ataupun mengecilkan hati para ibu rumah tangga, karena aku menjalani, mengalami dan merasakannya dan aku bangga atas itu. Aku hanya ingin menggali sesuatu yang lebih yang aku yakin ada dalam diriku. Aku juga seorang ibu rumah tangga, hanya saja aku merasa masih ingin belajar banyak hal, mengerjakan sesuatu selain pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga, dan memberikan kebanggaan yang lain bagi anak-anakku nantinya. Meskipun aku yakin mereka sekarang sudah cukup bangga memiliki seorang ibu seperti aku (maaf, narsis :-P), tapi aku adalah seorang ibu yang tidak pernah merasa cukup untuk bisa memberikan kebanggaan bagi anak-anak dan keluarganya.
Ini serius, tolong carikan saya kerjaan dong….
Sounds like desperate ya…? Tapi aku pikir itu adalah salah satu cara supaya aku bisa dapat pekerjaan, or at least informasi lowongan kerja.
Seperti para job hunter lainnya aku juga (berusaha untuk) rajin membaca Koran dan menengok internet untuk mencari informasi lowongan kerja dan mengajukan lamaran pada beberapa perusahaan untuk posisi yang “sesuai” buatku. Hanya saja sampai sekarang hasilnya masih nihil. Sepertinya keberuntunganku untuk bisa bekerja belum ada saat ini.
Kemudian atas saran beberapa teman aku sempat juga terpikir untuk mencoba peluang bisnis dengan membeli franchise atau sejenisnya. Tapi baru memulai beberapa langkah perencanaan semuanya jadi batal karena banyak kendala yang jujur aja aku ga siap untuk menghadapinya. Mungkin juga karena sejak awal aku ragu akan kemampuanku sendiri untuk berbisnis. Aku kurang percaya diri untuk “mengelola” uang karena aku merasa ga punya bakat (dan mungkin juga minat) untuk itu.
Dan selanjutnya kembalilah aku berburu pekerjaan dari Koran dan internet.
Yang mengusik aku untuk membuat tulisan ini adalah beberapa balasan teman yang aku kirimi sms diatas. Teman-temanku itu (mayoritas perempuan, menikah dan bekerja) membalas smsku dengan:
Udah lu di rumah aja, ga usah kerja. Urusin anak-anak aja.
atau:
Ngapain kerja, gw aja cape kerja. Tapi karena udah terlanjur ya dijalanin aja.
ada juga:
Sabar aja, nikmati aja jadi ibu rumah tangga…
Honestly, itu sama sekali bukan balasan yang aku harapkan. Apalagi oleh teman-teman wanitaku yang sudah menikah (berkeluarga) dan bekerja pula. Aku mungkin akan merasa lebih terhibur dan merasa lebih di hargai seandainya mereka menjawab:
Sorry ya, sekarang gw belum bisa Bantu soalnya belum ada lowongan di tempatku.
atau at least secercah harapan dengan:
Nanti deh kalo ada gw kabarin ya…
I mean, mereka semua toh perempuan seperti aku, tapi kok sepertinya mereka ga bisa “membaca” apa yang aku rasakan dan apa yang aku harapkan dari seorang teman. Sepertinya mereka tidak mengerti stagnasi yang aku rasakan pada posisiku sekarang ini. Padahal seperti orang-orang lain yang ingin berkembang dan terus belajar, aku juga merasa membutuhkan itu setelah selama 3 tahun ini benar-benar focus pada keluarga, terutama anak-anak.
Seingatku selama ini kita sering “meributkan” isu gender dan emansipasi wanita, tapi dalam “kasus”ku ini aku merasa kok justru para wanita sendiri yang tidak siap untuk hal-hal tersebut. Seandainya kaum kita (sorry for the guys, u’re not in it :P) memang menyadari apa yang kita (konon) perjuangkan, kita pasti akan saling menyemangati untuk bisa lebih maju. Atau setidaknya kita akan saling share untuk mencari jalan keluar yang lebih baik bagi masalah-masalah kita.
Aku sama sekali tidak berkecil hati ataupun mengecilkan hati para ibu rumah tangga, karena aku menjalani, mengalami dan merasakannya dan aku bangga atas itu. Aku hanya ingin menggali sesuatu yang lebih yang aku yakin ada dalam diriku. Aku juga seorang ibu rumah tangga, hanya saja aku merasa masih ingin belajar banyak hal, mengerjakan sesuatu selain pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga, dan memberikan kebanggaan yang lain bagi anak-anakku nantinya. Meskipun aku yakin mereka sekarang sudah cukup bangga memiliki seorang ibu seperti aku (maaf, narsis :-P), tapi aku adalah seorang ibu yang tidak pernah merasa cukup untuk bisa memberikan kebanggaan bagi anak-anak dan keluarganya.

0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home