my best friend's wedding
Aku sudah merencanakan untuk hadir di acara pernikahan sahabatku sejak dia memberitahukan rencana lamarannya, beberapa bulan yang lalu. Bagiku adalah penting untuk menjadi salah satu saksi di hari bersejarah bagi seseorang yang bersedia berbagi suka dan duka, menyayangiku dan menerimaku apa adanya. Dia adalah orang yang juga sangat berarti bagiku selain keluargaku. Bahkan kadang-kadang aku membandingkan kebaikan dan kesetiaannya padaku dengan suamiku sendiri… Hehehe… Mungkin kedengarannya lucu atau aneh, tapi suamiku bisa mengerti. Aku rasa mungkin beberapa orang yang mengerti persahabatan, terutama persahabatan antar wanita, juga bisa memahami.
Aku menyusun rencana sedemikian rupa, dari pakaian yang akan aku pakai waktu dia siraman, akad nikah dan resepsi, tiket perjalanan, transportasi selama disana (sampai-sampai sibuk nanya-nanya, minta referensi ke teman-teman di Jakarta dan bogor, bahkan buka website untuk rental mobil), susun jadwal, booking hotel, dan sempat pusing mikirin apa si kakak dan si adek jadi di ajak atau di tinggal di nenek&kakeknya aja (meskipun mereka sudah dibelikan tiket juga). Rasa-rasanya seluruh dunia sudah tau kalo aku dan keluarga akan ke bogor untuk menghadiri acara pernikahan sahabatku.
Ketika hari minggu di H-4 keberangkatanku ke bogor aku merasa agak ga enak badan, tapi berhubung masih banyak pekerjaan rumah yang belum beres sakit-sakit sedikit itu aku biarin aja. Aku malah sibuk mikirin gimana supaya si kakak yang sejak jumat agak demam akibat panas dalam & sariawan bisa segera sembuh dan ga lemes lagi. Tapi kemudian yang terjadi adalah aku mulai demam setelah maghrib. Tenggorokanku susah untuk menelan, badanku panas tapi aku merasa dingin, dan pusing. Jam 7 malam setelah minum madu dan obat flu aku segera tidur dengan harapan besok bisa lebih baik. Sayangnya tidur malamku sangat tidak nyaman karena tenggorokanku benar-benar sakit. Dan paginya (senin, H-3 jadwal keberangkatanku) badanku panas sampai 39 derajat Celcius. Aku paksakan makan bubur buatan suamiku supaya bisa minum obat dan istirahat lagi. But I’m not going well. Malamnya aku ke dokter ahli penyakit dalam dan diberikan 4 jenis obat.
Hari selasa pagi, H-2, demamku sudah turun tapi tenggorokan masih sakit dan susah menelan (bahkan airputih sekalipun!). Jadi badan tetap lemes. Siangnya si kakak tiba-tiba terserang diare dan muntah-muntah. Sang nenek yang hari itu menemani aku dirumah jadi panic dan khawatir, karena si kakak jadi semakin lemes padahal sebelumnya saja sudah cukup loyo karena malas minum susu dan makan akibat sariawan yang merajalela di mulutnya. Sang nenek saat itu sudah berpesan agar aku membatalkan rencanaku ke bogor, tapi aku hanya diam karena dalam hati aku masih yakin bahwa kami bisa berangkat, atau setidaknya aku, suami dan si adek. Sorenya aku dan suami mengantar si kakak ke dokter. Bahkan di tempat dokter dia sempat 2x buang air dan 2x muntah. Alhamdulillah malam harinya penyakitnya itu mulai berkurang. Tapi tidak penyakitku… I’m getting worse! Kembali merasa kedinginan padahal badanku panas tinggi. Tenggorokanku terlalu sakit bahkan untuk menelan ludahku sendiri. Aku harus terbangun tiap kali harus menelan ludah.
Keesokannya (H-1) aku diantar ke rumah sakit Grestelina oleh suamiku. Aku sempat berpikir yang terburuk, bakal langsung disuruh nginap di rumah sakit! Alhamdulillah tidak perlu. Dokter yang menanganiku merujukku ke dokter THT dan aku diberi obat tenggorokan dan penurun panas saja. Malamnya suamiku pun memberikan pertimbangan untuk segera membatalkan tiket kami, tapi sekali lagi aku ga mau. Setidaknya tidak untuk tiketku karena aku masih menyimpan harapan bahwa aku akan tetap bisa berangkat meskipun sendiri. Apalagi malam harinya giliran si adek yang muntah-muntah dan diare. Sepertinya si adek tertular kakak. Malam itu juga suamiku membawa si adek ke dokter, tapi sepanjang malam ternyata kami harus begadang karena si adek cukup sering muntah dan buang air. Sedangkan aku masih agak demam dan tetap sulit menelan.
Hari kamis, hari yang seharusnya kami sekeluarga berangkat ke Jakarta untuk kemudian ke bogor, kami sekeluarga di rumah dengan kondisi yang sama sekali tidak pernah (dan tidak ingin!) kami bayangkan… Aku dengan kepala pusing akibat sisa-sisa demam dan tenggorokan masih sulit untuk menelan, si kakak yang lemes karena masih susah minum susu dan makan akibat sariwan yang bertebaran di rongga mulutnya, si adek yang muntah-muntah dan buang air akibat minum susu meskipun susunya sudah diganti dengan susu rendah laktosa, dan suamiku yang terpaksa mengambil cuti 2 hari untuk mengurus dan merawat kami… Tiketku pun hangus sudah. Tapi sekali lagi itu tetap tidak menyurutkan niatku untuk hadir di hari bahagia sahabatku. Bahkan aku masih meminta ijin suamiku untuk bisa berangkat hari jumat dan dia tidak keberatan.
Hanya saja ketika jumat tiba si adek belum kunjung membaik, dia masih muntah-muntah dan buang air. Si kakak pun masih loyo. Sedangkan aku sudah bisa menelan walaupun masih merasa sakit. Tapi sekali lagi aku meminta ijin pada suamiku untuk berangkat sabtu dengan pesawat paling pagi dan jika perlu langsung pulang malam itu juga. Aku bahkan sudah memesan tiket itu dan mengabari sahabatku yang di Jakarta yang juga akan hadir agar bersedia menjemputku di bandara lalu kami sama-sama ke bogor. Aku membayangkan akan memberikan kejutan manis untuk sahabatku jika tiba-tiba aku hadir di acara akad nikahnya. Tapi rencana tinggal rencana… orang tuaku tidak mengijinkan untuk berangkat karena melihat kondisiku yang belum pulih benar dan terutama kondisi anak-anakku.
Malam itu aku menangis…. Aku sedih karena tidak bisa hadir di hari yang insya Allah hanya ada sekali dalam seumur hidup sahabatku… Aku sedih karena aku dan anak-anakku tak kunjung sembuh…. Tapi aku paling sedih ketika menyadari bahwa semua yang aku alami ini adalah ujian dan cobaan dari-Nya tapi aku tidak berusaha untuk tabah dan pasrah pada-Nya…
Hari sabtu, 14 Juli 2007, sahabatku mengirimkan mms berisi foto kedua mempelai dengan senyum bahagia mereka… Dan aku menangis… aku bahagia untuk mereka…. Aku bahagia untuk sahabatku…
Dearest ophie dan bayu…
Kami sekeluarga mengucapkan selamat membangun keluarga baru yang insya Allah bahagia, langgeng dan penuh berkah. Mohon maaf sebesar-besarnya karena kami batal hadir. Kalian mungkin gat au betapa kecewanya gw karena ga bisa jadi salah satu saksi di hari bersejarah kalian. Tapi yang pasti kami doakan yang terbaik untuk kalian. One request from us: jangan kelamaan nambah anggota keluarganya ya… ;-)
Yang jelas satu hikmah yang pasti dari semua ini… Kita hanya bisa merencanakan, Allah jualah yang menentukan segalanya… Dan insya Allah itu adalah yang terbaik untuk kita. Amin.

0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home