Monday, August 13, 2007

place d'italie

Dari jendela apartment di lantai 6 Citadines aku memandang orang-orang yang berlalu lalang tepat dibawahku. Udara dingin penghujung musim gugur mengantarkan aroma parfum mereka. Aku tidak begitu mengerti tentang parfum dan sejenisnya, tetapi yang aku tau adalah……wangi. Mereka semua berjalan dengan langkah yang cepat, dengan pakaian yang bergaya. Mobil-mobil pun seakan-akan nampak begitu bergaya dijalanan yang semakin padat diwaktu sore itu. Banyak diantara mobil-mobil itu yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya di kotaku. Kemudian aku menatap ke depan, melihat sebuah apartment yang nampaknya sudah cukup lama berada disitu.

Aku menarik nafas panjang, merasakan udara Paris yang dingin di hari itu masuk ke hidung hingga sampai di paru-paruku.

“Here I am… Bersandar pada jendela menatap sebagian kecil dari kehidupan di Paris…. Berada sangat jauh dari tanah air tetapi masih berada di bumi yang menikmati bulan dan matahari yang sama….”

Sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya berada jauh dari kota kelahiran, bahkan dari ibukota tanah air. Selama ini aku hanya merasa kagum pada orang-orang yang bisa bepergian keluar negeri, atau kagum pada cerita di majalah tentang keindahan atau keunikan negara-negara lain. Tetapi waktu itu aku tidak merasa perlu membayangkan bahwa diriku akan seperti mereka atau menyimpan keinginan yang besar untuk bisa melihat Negara yang lain. Apalagi setelah Indonesia mengalami krisis ekonomi di tahun 1997 dan lengsernya Presiden Soeharto. Saat rupiah selalu stabil di 2500 per dollar aja ga kebayang dan ga pernah ke luar negeri apalagi ketika rupiah naik turun hingga mencapai 10.000 (bahkan lebih) per dollarnya.

Tapi nyatanya takdir kita tidak terpengaruh oleh berapa rupiah per dollar ataupun siapa presiden yang sedang menjabat saat itu. Dan tanggal 14 oktober 2001, setelah 8 bulan pernikahanku, untuk pertama kalinya aku berangkat keluar negeri mendampingi suami yang ditugaskan untuk mengikuti sebuah training selama dua bulan di Paris.

Penerbangan selama 14 jam, dengan satu kali transit di Hong Kong, dengan pesawat Cathay Pasific aku nikmati dengan menonton film-film baru yang ga sempat aku tonton di bioskop. Mungkin karena begitu takjub, tidak percaya, gembira dan lain sebagainya karena melakukan perjalanan keluar negeri untuk pertama kalinya rasa ngantuk sama sekali tidak datang padaku.

Begitu pula ketika tiba di bandara Charles De Gaule pada pukul 6 pagi dengan suasana seperti jam 4 subuh, aku masih punya banyak energi untuk merasa takjub. Lalu kami bertemu dengan penjemput kami yang kemudian segera mengantarkan kami ke apartment. Sepanjang jalan aku begitu menikmati mulusnya jalanan di Paris. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan anggun meskipun ketika aku ngintip speedometer sempat kaget karena menunjukkan kecepatan 120.

Sambil melihat-lihat billboard yang gede-gede dipinggir jalan dengan gambar-gambar separuh bugil aku berkata pada diri sendiri, “Selamat datang di Perancis…”

(lagi kangen Paris)

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home