place d'italie
Dari jendela apartment di lantai 6 Citadines aku memandang orang-orang yang berlalu lalang tepat dibawahku. Udara dingin penghujung musim gugur mengantarkan aroma parfum mereka. Aku tidak begitu mengerti tentang parfum dan sejenisnya, tetapi yang aku tau adalah……wangi. Mereka semua berjalan dengan langkah yang cepat, dengan pakaian yang bergaya. Mobil-mobil pun seakan-akan nampak begitu bergaya dijalanan yang semakin padat diwaktu sore itu. Banyak diantara mobil-mobil itu yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya di kotaku. Kemudian aku menatap ke depan, melihat sebuah apartment yang nampaknya sudah cukup lama berada disitu.
Aku menarik nafas panjang, merasakan udara
“Here I am… Bersandar pada jendela menatap sebagian kecil dari kehidupan di Paris…. Berada sangat jauh dari tanah air tetapi masih berada di bumi yang menikmati bulan dan matahari yang sama….”
Sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya berada jauh dari
Tapi nyatanya takdir kita tidak terpengaruh oleh berapa rupiah per dollar ataupun siapa presiden yang sedang menjabat saat itu. Dan tanggal 14 oktober 2001, setelah 8 bulan pernikahanku, untuk pertama kalinya aku berangkat keluar negeri mendampingi suami yang ditugaskan untuk mengikuti sebuah training selama dua bulan di Paris.
Penerbangan selama 14 jam, dengan satu kali transit di
Begitu pula ketika tiba di bandara Charles De Gaule pada pukul 6 pagi dengan suasana seperti jam 4 subuh, aku masih punya banyak energi untuk merasa takjub. Lalu kami bertemu dengan penjemput kami yang kemudian segera mengantarkan kami ke apartment. Sepanjang jalan aku begitu menikmati mulusnya jalanan di Paris. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan anggun meskipun ketika aku ngintip speedometer sempat kaget karena menunjukkan kecepatan 120.
Sambil melihat-lihat billboard yang gede-gede dipinggir jalan dengan gambar-gambar separuh bugil aku berkata pada diri sendiri, “Selamat datang di Perancis…”
(lagi kangen Paris)

0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home